Tampilkan postingan dengan label DAKWAH. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label DAKWAH. Tampilkan semua postingan

Jumat, 12 Desember 2008

DAKWAH : KHUTBAH NIKAH

Waktu ngawinkeun si Cikal meunangkan wanoja urang Padang, batur kuliahna, ari nu khutbah nikahna, si Cikal teh ngurihit : "Hoyong ku Bapa we, ulah ku nu sanes". kapaksa khutbah teh disusun basana campur, gado-gado malah, ngan sugan we teu jadi ngurangan eusi materi anu ditepikeun keur maranehanana, umumna atuh bisa keur para mustami jeung jamaah anu harita bisa hadir :

Bismillaahirahmaan nirrahiim
Assalamu ‘alaikum waramatullaahi wabarakaatuh.
Alhamdu lillahil ladzii arsala rasuulahu bil hudaa, wadiinil haq, liyudh hiraahu alladziini kullihi wakafaa billaahi syahidaa. Asyhadu allaa ilaaha illallaahu wahdahuu laa syariikalah, wa asyhadu anna muhammadan abduhu waraasuluhu laa nabiya ba’dah. Allaahumma shalli wasallim wabarik ‘alaa sayyidina muhammad, wa ‘alaa aalihi wa ash haa bihii wa manit taqa. Amma ba'du.
Qaalallaahu ta 'aala fii kitabiihil kariim.
A ‘uudzubillaahi minasy syaithaanir rajiim. Wa min aayaa tihii an khalaqa lakum min amfusikum az waa jaa, litas kunuu ilaihaa, wa ja ‘ala bainakum mawad dah, wa rahmah, inna fii dzaalika la aayaatil liqaumiy yatafak karuun.

Ibu bapak, hadirin sekalian rahimakumullah.
Puji syukur kita panjatkan ke hadirat Illahi Rabbi, yang telah menganugerahkan berbagai macam kenikmatan kepada kita semua, terutama nikmat iman dan kesehatan sehingga pada sore hari ini, kita dapat berkumpul bersama, bersilaturahmi di masjid yang sama kita cintai, masjid Baitul Muttaqin ini. Shalawat serta salam semoga selamanya tercurah kepada jungjunan kita semua, Nabi Besar, Nabi Muhammad SAW, kepada para keluarganya, para shahabatnya dan kepada seluruh ahli baitnya yang setia, sampai di hari kiamat nanti.

Hadirin yang berbahagia.
Seperti di sampaikan tadi oleh Pa Odik, sebagai pengatur acara, bahwa saat ini, ketika kita berkumpul dimasjid ini, yaitu dalam rangka tasyakur bin ni'mah dari kami sekeluarga, sehubungan salah seorang anak laki-laki kami, yang sulung, bernama Adhitya Nugraha, akan menghadapi acara pernikahannya, dengan menyunting anak gadis dari daerah Propinsi Riau, yang bernama Fatma Yuni, nanti pada tanggal 08 April 2006.

Mengingat jauhnya tempat perkawinan anak kami ini, di daerah Pekanbaru sana, sehingga tidak mungkin bagi kami, untuk mengundang ibu-bapa sekalian agar dapat datang kesana, maka sengaja kami sekeluarga, mengadakan acara seperti ini di Masjid Baitul Muttaqin, disamping untuk memohon do'a restu dari ibu-bapak sekalian, atas perkawinan anak kami ini, juga karena memang tuntunan Nabi kita Yang Mulia, bahwa perkawinan itu, agar diumumkan kepada khalayak, wa bil khusus kepada seluruh jamaah di masjid, beserta sebagian warga di Komplek Perumahan Cibolerang Indah ini.

Ibu-bapak hadirin ikhwatul iman rahimakumullah.
Menghadapi perkawinan anak sulung kami ini, terus terang, merupakan pengalaman pertama bagi kami sekeluarga, namun dalam permulaan pengalaman ini, segudang keinginan dan segudang harapan dari kami sebagai orang tuanya, untuk memberikan pendidikan keagamaan, yang paling paripurna, bagi anak-anak kami, yang akan menghadapi hidup berumah tangga nanti.

Kalaupun materi ini kami tujukan khusus, sebagai pembekalan buat anak-anak kami, tetapi ada secercah harapan, semoga juga menjadikan suatu dakwah, buat kita ibu-bapak sekalian yang hadir saat ini.

Hadirin yang berbahagia, terutama Ananda berdua, Adiet dan ananda Yunni yang Bapak sayangi.
Seperti Luqmanul Hakim mendidik anaknya dalam Al Qur-an, pun Bapa saat ini, ingin mencontoh seperti beliau, dalam Surat Lukman ayat 13, 16, 17 dan 18 tertulis begini :

A'udzubillahi minasy syaithaanirrajiim, Wa idz qaala luqmaanu libnihii, wahuwa ya 'izhuhuu, yaa bunayya laa tusy rik billaahi, innasy syirka lazhulmun 'azhiim".

Dan ingatlah ketika Luqman berkata kepada anaknya, diwaktu ia memberi pelajaran kepadanya : Wahai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan Allah adalah benar-benar kezhaliman yang besar.

Yaa bunayya innahaa in taku mitsqaala habbatim min khardalim fatakum fii shakh ratin au fissamaawaati au fil ardhi ya- ti bihallaah, innallaaha lathiifun khabiir.

Wahai anakku, sesungguhnya jika ada sesuatu perbuatan seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan membalasinya. Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui.

"Yaa bunayya aqimish shalaata wa-mur bil ma'ruufi wan ha 'anil mungkari wash bir, 'alaa maa ashaa baka, inna dzaalika min 'azmil umuur."

Wahai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah manusia mengerjakan yang baik dan cegahlah mereka dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan Allah.

"Walaa tusha' 'ir khad daka linnaasi walaa tamsyi fil ardhi marahaa, innallaaha laa yuhibbu kulla mukhtaalin fakhuur."
Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia karena sombong dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.

Ananda berdua. saat inipun Bapak ingin berwasiat kepada kalian berdua seperti itu, : "Janganlah kalian berdua mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan Allah itu adalah benar-benar kezhaliman yang besar".

"Wahai anakku berdua, sesungguhnya jika ada sesuatu perbuatan seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan membalasinya. Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui".

"Wahai anakku berdua, dirikanlah shalat dan suruhlah manusia mengerjakan yang baik dan cegahlah mereka dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kalian berdua. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan Allah".

"Dan janganlah kalian memalingkan mukamu dari manusia karena sombong dan janganlah kalian berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri".

Hadirin rahimakumullah, terutama Ananda berdua, Adiet dan Ananda Yunni yang Bapa sayangi.
Kenapa Bapak ingin menyampaikan hal ini kepada kalian berdua pada saat ini ? Karena Bapak takut, nanti di akhirat, kalian sebagai anak Bapak yang Bapak cintai saat ini, justru kelak di akhirat kita anak dan bapak, malah menjadi orang yang saling membenci dan memusuhi, karena hal seperti ini, bisa saja terjadi, jika hubungan anak dan orang tuanya tidak berlandaskan ketaqwaan kepada Allah SWT, karena nanti mereka akan berseteru dihadapan Allah, mereka akan bermusuhan kelak di akhirat.

Seperti disitir dalam Surat Az Zuhruf ayat yang ke 67 : "A 'udzubillahi minasy syaithaanirrajiim, Al akhil laa -u yauma -idzim ba'dhuhum liba'dhin, 'aduwwun illal muttaqiin".

Orang-orang yang akrab saling kasih mengasihi, pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain, kecuali orang-orang yang bertaqwa.


Bapak tidak ingin, hari ini, kita yang sekarang saling mencintai dan menyayangi, kelak di akhirat justru menjadi musuh dan seteru. Malah harapan Bapak, nanti di akhirat, kita akan tetap menjadi sebuah keluarga yang tetap dimuliakan oleh Allah SWT. Amiin Yaa Allah Yaa Rabbal Alamiin.

Pada saat seperti inilah, Bapak ingin menyampaikan pendidikan keagamaan kepada kalian berdua, agar nanti, kelak di akhirat, tidak ada persaksian bahwa Bapak tidak pernah memberikan bimbingan kepada kalian berdua.

Ananda berdua, Adiet dan Ananda Yunni yang Bapak sayangi.
Seperti imam Ali Radiyallahu Anhu, ketika menikahi Siti Fatimah Az Zahra, beliau bukanlah seorang yang kaya raya, juga Nabi kita Muhammad SAW, ketika menikahi Siti Khadijah Al Qubra, beliau juga bukan seorang yang kaya raya. Dan saat ini, ketika engkau Yunni, dinikahi anak Bapak nanti, dinikahi oleh Adiet nanti, pun sama, anak Bapak bukanlah orang yang kaya, tapi dia punya cinta untuk dijadikan salah satu pintu, dalam beribadah kepada Allah SWT.

Karena cinta dua insan yang berbeda jenis, adalah cinta yang terjalin setelah akad nikah nanti, cinta kalian terhadap pasangan hidup yang sah nanti. bukan cinta ketika masa kalian berpacaran, bukan, bukan yang itu. Cinta kalian adalah cinta setelah selesai akad nikah nanti.

Ananda berdua, Adiet dan Ananda Yunni yang Bapak cintai.
Jika saatnya nanti engkau selesai ijab qabul, akan banyak orang bergumam mengucapkan do'a : "Barakallaahu laka wa baraka alaika, wa jama'a bainakuma fii khaiir".

Artinya do'a itu : Allaahumma Yaa Allah, Yaa Rabbana, Berkatilah pernikahan ini dan satukan mereka didalam kebaikan.

Tapi do'a itu saja tidak cukup, jika kalian berdua pun tidak berusaha untuk menuju kesana.

Ketika engkau berdua masih di pelaminan, akan banyak sanak keluarga yang datang, yang ingin mengucapkan selamat kepada kalian berdua, atau paling tidak mengucapkan do'a yang tadi.

Tetapi sering Bapak lihat, yang terjadi di sebuah pesta pernikahan itu, kedua mempelai itu kadang-kala meninggalkan pelaminan sebentar untuk ganti baju, meninggalkan orang yang akan berdo'a, sehingga sering para undangan yang datang, menunggu mempelai selesai ganti baju.

Nah khusus buat kalian berdua, Bapak tidak akan bangga, jika nanti kalian beristirahat dari pelaminan, ketika orang-orang ingin mengucapkan selamat dan do'a kepada kalian, justru kalian hanya sedang ganti pakaian.

Bukan itu yang menjadi kebanggaan, tetapi Bapak akan bahagia jika ada undangan yang menunggu kalian untuk mengucapkan selamat dan do'a, justru apabila kalian sedang shalat.

Jadi ketika para undangan menunggu kalian di tengah pesta itu, tidak ada lagi dialog seperti ini :
"Kemana mempelainya tidak ada di tempat ?"
"Tunggu sebentar Pak, mempelainya sedang ganti baju"
Camkanlah, dan ingat-ingatlah jangan ada lagi dialog seperti itu.
Tapi jika mampu gantilah dialog itu menjadi begini :
"Kemana mempelainya tidak ada di tempat ?"
"Tunggu sebentar Pak, mempelainya sedang shalat dulu".
Dialog seperti itu yang mungkin akan menjadi Bapak bahagia. Seperti didikan Lukmanul Hakim tadi, dirikanlah shalat anakku berdua.
Ananda berdua, Adiet dan Ananda Yunni yang Bapak sayangi, hadirin sekalian rahimakumullah.
Setelah selesai walimatul urusy, setelah selesai pesta pernikahan kalian nanti, khusus kepadamu Adiet, karena engkau sudah menjadi suami, karena engkau sudah menjadi imam di keluargamu nanti, dan orang pertama yang menjadi ma'mum, adalah istrimu, sebelum shalat Maghrib tiba, bimbinglah istrimu, untuk membaca Basmallah, dengan segenap penghayatan akan ke Maha Rahmanan Alah, akan ke Maha Rahiman Allah, kau boleh pegang ubun-ubun istrimu, kau kecup ubun-ubun istrimu dengan penuh kasih sayang, sambil berdo'a, seperti yang diajarkan oleh nabi kita Muhammad SAW, dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Ibnu Majah, Abu Daud dan Ibnu Sinni : "Allaahumma, inni as -aluka min khairihaa, wa khairi maa jabal tahaa, wa a 'udzubika min syarrihaa, wa syarri maa jabaltahaa".

Yaa Allah, sesungguhnya aku mohon kepada-Mu kebaikannya dan kebaikan wataknya. Dan aku mohon perlindungan-Mu dari kejahatannya dan kejahatan wataknya.

Dan engkau Yunni, boleh meng-aminkan do'a yang dibisikkan oleh suamimu Adiet, pada saat itu.

Dan setelah itu, engkau Adiet boleh melanjutkan dengan do'a : "Baarakaallaahu likulli waahidin minna shaahibihi.
Semoga Allah membarakahi masing-masing diantara teman hidupnya.

Selesai kalian berdo'a seperti itu, lalu kau ajak istrimu untuk mengambil air wudhu, dan laksanakanlah shalat Maghrib berjamaah berdua, kini engkau pertama kalinya menjadi imam di keluargamu, dan anggota keluarga yang paling awal adalah istrimu, setelah shalat Maghrib berdua berjamah, boleh kau membaca dzikir, boleh kau dirikan shalat sunat ba'diyah, boleh kau membaca wiridz dan do'a, tapi nanti menjelang Isya, kau ajak lagi istrimu untuk shalat sunat mutlak bersama, sebagaimana dilakukan para salafush shalih, agar pernikahan kalian itu penuh barakah.

Selesai shalat sunat mutlak ini kau baca do'a lagi seperti yang diajarkan Nabi Muhammad SAW, dalam hadits yang diriwayatkan Abdullah bin Mas'ud, seperti ini :

"Allaahumma ijma' bainana, maa jama'ta bi khaiir, wa farriq bainana idzaa farraqtaa ilaa khaiir".

Alaahumaa Yaa Allah, berkatilah bagiku dalam keluargaku, dan berilah barakah mereka kepadaku. Allaahumma Yaa Allah, kumpulkan antara kami apa yang Engkau kumpulkan dengan kebaikan, dan pisahkan antara kami jika Engkau memisahkan menuju kebaikan. Amiin.

Usai shalat sunat mutlak ini, boleh kau elus kepala istrimu, malah engkau Yunni, saat itu, boleh kau cium tangan suamimu. Boleh kalian menggumamkan kalimat-kalimat cinta ketika itu.

Setelah itu semua selesai, lebih afdhal kalau engkau Adiet shalat Isya di masjid berjamah, karena buat seorang laki-laki lebih utama shalat fardhu itu dilakukan di masjid secara berjamah, kecuali shalat sunnat itu harus lebih banyak di rumah, tetapi setelah selesai shalat Isya berjamaah dan berdzikir secukupnya, segeralah engkau pulang ke rumah.

Dan ketika itulah, engkau Yunni, seyogyanya berpenampilan untuk membuat seorang suami senang, penuh pesona, dengan parfum yang segar, jangan terbalik, engkau memakai parfum hanya untuk keluar rumah, karena justru seharusnya buat seorang wanita, ketika di rumah berduaan dengan suaminyalah, ia seharusnya memakai parfum.

Seperti hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Jarir : Sebaik-baik isteri adalah jika kamu memandangnya membuat hatimu senang, jika kamu perintah dia mentaatimu, dan jika kamu tinggal maka dia akan menjaga untukmu harta dan dirinya.

Malah lebih tegas lagi disebutkan dengan hadits yang berbunyi begini :
"Warawal haakimu min hadiitsi mu 'aadzin, anna rasulullaahi shalallaahu 'alaihi wasallam qaala : Lau amartu ahadan ay yajuda li ahadin, la amartul mar ata, an tasjuda lizau jihaa min 'izhami haqqihi 'alaihaa. Walaa tajidum ra -atu, halaawatul iimaani hattaa tuwad diya haqqa zaujihaa, wa lau sa alahaa nafsahaa, wa hiya 'alaa zhahri qatabin."

Hakim meriwayatkan hadits dari Mu 'adz, bahwasanya Rasulullaah Saw, bersabda : "Seandainya aku boleh memerintahkan seseorang agar sujud kepada orang lain, maka aku akan memerintahkan orang perempuan agar supaya dia sujud kepada suaminya, karena beratnya hak suami atas isterinya. Dan seorang perempuan tidak akan mendapatkan manisnya iman, sehingga ia memenuhi hak suaminya, meskipun suami itu meminta dirinya untuk digauli, padahal dia sedang berada di atas sandaran punggung unta".

Ridha suamimu adalah surga buatmu, Yunni.

Dan sebagai penguat untuk seorang suami, Bapa khususkan buatmu Adiet, sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Turmudzi berbunyi begini :

" 'an abii hurairata radhiyallaahu 'anhu qaala, qaala rasuulullaahi shallallaahu 'alaihi wasallam, akmalul mu-miniina iimaanan ahsanuhum khuluqaan, wa khiyaa rukum, khiyaa rukum linisaa -ihim".

Dari Abu Hurairah r.a, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda : "Orang mu-min yang paling sempurna imannya yaitu orang yang paling baik budi-pekertinya di antara mereka. Dan orang yang paling baik di antara kamu sekalian yaitu orang yang paling baik terhadap istrinya.

Setelah itu semua selesai, barulah, kalian nyanyikan melodi cinta yang paling indah dalam sejarah percintaan umat manusia, dengan mengharap pahala jihad fii sabilillah, dan mengharap lahirnya generasi pilihan yang selalu bertasbih dan mengagungkan asma Allah Azza wa Jalla, dimana saja mereka berada.

Untuk mengawalinya dimulailah dengan do'a :
"Bismillaahi, Allaahumma janibnasy syaithaana, wa janibnisy syaithaana maa razaqtanaa.

Dengan Asma Allah. Allaahumma Yaa Allah, jauhkanlah kami dari syaithaan, dan jauhkanlah syaithaan dari apa yang Engkau berikan kepada kami.

Jika semua bimbingan ini dilaksanakan dengan penuh tanggung jawab dan keimanan kepada Allah SWT oleh kalian berdua, Insyaa Allah, hasilnya seperti yang tertuang dalam surat Ar Rahman, 57, 58, 59, 60.

"Fabiayyi aalaa -i rab bikumaa tukadz dzibaan, Ka annahunnal yaaquutu wal marjaan, Fabiayyi aalaa -i rab bikumaa tukadz dzibaan, hal jazaa -ul ihsaani illal ihsaan".

Maka nikmat Rabb-mu yang manakah yang kamu dustakan
Seakan bidadari itu permata yakut dan marjan
Maka nikmat Rabb-mu yang manakah yang kamu dustakan
Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan pula.

Setelah semua prosesi itu selesai dilaksanakan, jangan lupa mandi janabat, jangan anggap enteng thaharah ini, karena akan menjadi langkah awal untuk melaksanakan ibadah shalat selanjutnya, salah langkah dalam mandi janabat nanti, salah pula seluruh peribadahan shalat yang engkau laksanakan selanjutnya. kalian mulai dengan berwudhu dahulu, selanjutnya buat sang suami seluruh kepala harus diguyur air, sedangkan buatmu Yunni sebagai seorang istri, cukup membasahi ubun-ubunmu sampai basah.

Ananda berdua yang Bapa sayangi, serta ibu-bapa hadirin sekalian rahimakumullah.
Kenapa saya sampai menyampaikan perihal mandi janabat ini, karena pengalaman, ketika melaksanakan ibadah haji dulu, ada cerita seorang jamaah ketika itu, setelah sampai di Masjidil Haram, beliau ini tidak bisa melihat dimana letaknya Ka'bah yang agung itu, padahal semua orang sudah menangis terisak-isak di depan Ka'bah begitu pertama kali melihatnya, orang ini kebingungan, dia tidak bisa melihat Ka'bah ada dimana, dalam kebingungannya dia mengingat-ngingat dosa dan kesalahan apa yang telah diperbuatnya selama di tanah air dulu, ternyata yang terbersit dalam pikirannya adalah, ketika selesai berjima' dengan istrinya beliau tidak pernah mandi janabat, Masyaa Allah, menyadari kesalahannya ini, dia bertaubat kepada Allah seketika itu, dia bersujud memohon ampun kepada-Nya, dia menangis tersedu-sedu, menyesali perbuatannya. selesai bersujud, ketika menengadahkan kepalanya, ternyata Ka'bah ada persis didepan matanya. Allaahu Akbar.

Ananda berdua yang Bapak sayangi, ibu bapak rahimakumullah.
Langkah berikutnya dalam kehidupan berkeluarga nanti, adalah sang suami mendidik istrinya, kelihatannya gampang padahal sangat sulit sekali, Nabi Luth pun dulu kesulitan untuk mendidik istrinya, begitu juga Nabi Nuh, kesulitan mendidik istrinya, sebagai contoh kasus saja, pernah di Bandung ini dulu ada ulama kondang, yang sangat dicintai oleh para jamaahnya, tetapi kadang-kadang para jamaah ini seringkali bisik-bisik akan perilaku sang istri dari ulama kondang ini, ternyata sang istri tersebut, banyak jamaah yang menyebutnya "kurang santun" katanya. Sang ulama hanya pandai mendidik orang lain, mendidik istrinya, ternyata tidak berhasil.

Nah, kesulitan mendidik sang istri inipun mungkin masih dirasakan oleh Bapak-bapak yang hadir saat ini. Saya jadi teringat akan ceramahnya Pa Miftah Faridh dulu, ketika ceramah di Jl. Marga Jaya IV, suatu hari katanya, seorang suami menegur istrinya : "Mamah ! Jangan bertingkah seperti itu, tidak baik, termasuk riya, perilaku seperti itu teh".

Apa jawab sang istri : "Akh Bapak mah kuno, kurang pergaulan, Bapak yang sombong mah, bukan Mamah, Bapak yang riya mah, bukan Mamah, Bapak teh seharusnya mah mendorong istri, jangan malah mengkritik saja, gaul atuh Pak, gaul...., akh.... terus sagala, macam disebut, kalau tadi sang Bapak hanya satu kalimat saja, sang istri menjawabnya sampai 18 kalimat, malah lebih katanya.

Akhirnya, sang suami tidak mau lagi menegur, jika sang istri berbuat kesalahan, sang suami tidak mau lagi meluruskan jika sang istri bertindak tidak pada tempatnya.

Mau salah mau benar, "sabodo teuing", kata Pa Sihotang, wis...... karepmu, kata orang Jawa.

Padahal sebahagian hadits tadi, Sabda Nabi : "Seandainya aku boleh memerintahkan seseorang agar sujud kepada orang lain, maka aku akan memerintahkan perempuan agar supaya dia sujud kepada suaminya, karena beratnya hak suami atas isterinya".

Atau bisa saja terjadi, ketika sang suami meminta istrinya untuk memasangkan kancing kemejanya yang copot, misalnya, sang istri malah balik berkata, "Teu ningali yeuh Mamah sakieu riweuhna, jaba masak, jaba kukumbah, jaba nyeuseuh" terus ........ segala macam disebut, akhirnya sang suami tidak mau lagi menyuruh istrinya.

Sang istri, yang tidak pernah lagi disuruh-suruh oleh sang suami, tidak pernah lagi ditegur jika dia punya kesalahan, malah merasa senang, sambil berucap : "Tah kitu, ngecos-ngecos wae mah ku sorangan, Nabi ge kapan ku sorangan ngecos-ngecos bae mah". Malah diobral di tempat arisan :"Suami saya mah begitu baiknya, kalau saya pulang dari mana-mana teh, tidak pernah marah lagi seperti dulu, malah sekarang mah enak, si Bapak teh jarang nyuruh lagi sama saya, malah nyuci pakaian ge, sekarang mah dia nyuci sendiri".

Kata Ustadz Hilman Rosyad ketika ceramah disini dulu, kalau sudah terjadi begini, hati-hati, bakal ada sederetan wanita lain yang akan ngantri, untuk membantu suami Ibu, mangecoskeun kancing kemejanya yang copot.

Jika saja kata ibu teh, "Akh jika seperti itu terjadi, senjatana mah gampang, pura-pura we menta diserahkeun, da yakin, si Bapana moal wanieun".

Mending jika tidak berani, bagaimana kalau bicaranya sama suami yang saruana, lalu dia jawab :"Atuh maneh menta diserahkeun mah, aing numpeng".

Nah, begitu beratnya, begitu sulitnya mendidik keluarga, tapi jika kita bercermin kepada keluarga Nabi, Siti Khadijah Al Qubra begitu kayanya beliau, begitu cantik jelitanya beliau, tetapi terhadap suaminya, begitu santunnya, begitu menghormatinya.

Ananda berdua yang Bapak sayangi, hadirin rahimakumullah.
Berikutnya yang ingin Bapak sampaikan, seperti Lukmanul Hakim mendidik anaknya tadi, adalah jauhi sifat sombong dan takabur, jauhi sifat riya, karena sangat samar sekali kesombongan itu bercokol didalam dada. Sampai Nabi bersabda dalam hadits yang diriwayatkan oleh Muslim : "Barang siapa dalam hatinya ada sifat kesombongan, walau sekecil biji sawi, dia tidak bisa masuk kedalam surga".

Saya punya kasus bagini : "Seorang Bapak yang mempunyai anak, kebetulan si anak ini sukses secara materi di Jakarta, dibanding kehidupan Bapaknya di Bandung, suatu hari sang anak pulang ke Bandung ke rumah Bapaknya, disini dekat, di daerah Leuwipanjang, karena masa remaja saya di daerah Leuwipanjang sana, sang anak ini tentu saja datangnya ke Bandung dengan membawa kendaraan yang mulus dan masih baru, nah ceritanya, karena rumah bapaknya ini masuk ke gang didalam, dan tidak ada garasi mobilnya, tentu saja, kendaraan sang anak itu harus diparkir di jalan Leuwipanjang sana.

Ketika malam tiba, sang anak merasa khawatir mobil barunya ini ada yang nyuri, atau paling tidak, mobil barunya ini ada yang membongkar, karena di daerah Leuwipanjang sana, terkenal daerah sangar katanya, karena kekhawatiran seperti itu, lalu si anak bicara sama bapaknya.

"Bapak, malam ini, Bapak tidur saja di mobil, sambil nungguin mobil, takut ada yang nyuri".

Sang Bapak pun menurut perintah anaknya, selama sang anak di Bandung, selama itu pula sang Bapak tidur didalam mobil anaknya.

Akhirnya, setelah tiga hari ada di Bandung, sang anak pun kembali pulang ke Jakarta.

Ternyata sepulangnya sang anak, si Bapak malah jatuh sakit, akibat dia tidur selama tiga malam didalam mobil. Subhanallah.

Nah, dari cerita itu, camkan oleh kalian ananda berdua, Bapak tidak akan bangga, kalau nanti seandainya kalian sukses secara materi, siapa tahu kalian bawa mobil bagus, masuk ke Komplek Cibolerang ini, tetapi berperilaku seperti anak kawan Bapak tadi, karena cerita tadi betul-betul teralami oleh kawan Bapak dengan anaknya, di Jalan Leuwipanjang sana.

Hal seperti itu sebenarnya tidak perlu terjadi, apabila sang anak yang sukses ini, tidak dihinggapi penyakit riya dihatinya, karena ada penyakit kibir di hatinya, sehingga dia tidak merasakan lagi bahwa yang disuruhnya itu Bapaknya, dia hanya merasakan bahwa bapaknya bisa disuruh seperti itu.

Satu lagi contoh konkrit, disini di Masjid Baitul Muttaqin, ada Pa Sihotang yang seringkali memberikan tausyiah, tiap Shubuh. Dalam menyingkap kesombongan ini, beliau selalu memberikan contoh begini : "Misalnya, saya. misalnya Pa Maman katanya, ketika khutbah di mimbar, entah itu khutbah Idul Fitri, ataupun khutbah Idul Adha, suatu saat, begitu selesai berkhutbah, beberapa orang jamaah ada berguman, wiiiih......hebat betul yah, khutbahnya Pa Maman".

Lalu kedengaran sama Pa Maman, bagaimana kata Pa Maman : "Aiiiiing ...... tea",

Nah, jawaban seperti ini, seperti kata Nabi tadi, "dia tidak bisa masuk ke dalam surga". Karena kesombongan terlalu bercokol didalam dadanya.

Karena jawaban yang harus disampaikannya ketika itu, adalah : Alhamdu...........lillah, segala puji hanya bagi Allah semata.

Tapi sayang, ada gerak tubuh, atau disebut olah tubuh oleh para pemain teater, ketika seseorang mengucapkan "Alhamdulillah" dibibirnya, tetapi olah tubuhnya dan tingkah lakunya, persis seperti ia mengucapkan "Aiiiing..... tea".

Ini bahaya, bibirnya Alhamdulillah, tapi gayanya "Aiiiing...... tea". Begitu tipisnya kesombongan bercokol didalam hati manusia.

Buat kalian berdua, terutama buatmu Adiet, untuk meredam kesombongan ini, caranya adalah, sering-seringlah bergaul dengan jamaah masjid, sering-seringlah ittikaf di masjid, karena di masjidlah, seringkali ada orang yang mengingatkan kita, jika langkah kita ada yang sedikit kurang pada tempatnya.

Ibu-bapak hadirin sekalian ikhwatul iman rahimakumullah.
Seperti di awal tadi, materi yang saya sampaikan kali ini, awalnya khusus buat anak-anak kami tercinta, yang akan menghadapi kehidupan berkeluarga nanti, tetapi siapa tahu inipun dapat kita pergunakan, oleh para pengantin yang sudah basi seperti kita, untuk mengingatkan kembali saat-saat indah, bulan-madu kita dahulu.

Dan siapa tahu hal-hal yang saya sampaikan tadi, tidak pernah kita lakukan dahulu, bersama suami kita, bersama istri kita dahulu.

Kalau terjadi seperti itu, marilah kita yang berkumpul saat ini di masjid Baitul Muttaqin ini, untuk mengulangi saat-saat indah itu, seperti yang dicontohkan Nabi tadi.

Karena saya yakin, jika hal-hal yang saya sampaikan tadi, kita laksanakan lagi nanti malam, oleh kita para pengantin yang sudah basi ini, mudah-mudahan saya berharap, dapat menjadikan sebagai perekat kembali, perasaan cinta kita terhadap pasangan kita masing-masing, kita renda kembali hubungan kita bersama istri kita, bersama suami kita, yang kadang-kadang sudah mulai kita lupakan keindahannya, mudah-mudahan saja, kepada pasangan yang akan melaksanakannya nanti, akan menghasilkan seorang anak yang soleh dan shalehah, seperti harapan kita semua.

Untuk itu, ingin saya mengulang kembali langkah-langkahnya.
Sebelum shalat Maghrib tiba, sang suami membimbing istrinya, untuk membaca Basmallah, dengan segenap penghayatan akan ke Maha Rahmanan Alah, akan ke Maha Rahiman Allah, sang suami memegang ubun-ubun istrinya, serta mengecup ubun-ubun istrinya dengan penuh kasih sayang, sambil berdo'a :

"Allaahumma, inni as -aluka min khairihaa, wa khairi maa jabal tahaa, wa a 'udzubika min syarrihaa, wa syarri maa jabaltahaa".

Yaa Allah, sesungguhnya aku mohon kepada-Mu kebaikannya dan kebaikan wataknya. Dan aku mohon perlindungan-Mu dari kejahatannya dan kejahatan wataknya.

Dan sang istri meng-aminkan do'a yang dibisikkan oleh suaminya pada saat itu.
Setelah itu, sang suami melanjutkan dengan do'a : "Baarakaallaahu likulli waahidin minna shaahibihi.
Semoga Allah memberkati masing-masing diantara teman hidupnya.

Selesai berdo'a seperti itu, lalu keduanya mengambil air wudhu, dan laksanakanlah shalat Maghrib berjamaah berdua, suami menjadi imam dan ma'mumnya sang istri, setelah shalat Maghrib berdua berjamah, boleh sang suami membaca dzikir, boleh juga mendirikan shalat sunnat ba'diyah, boleh membaca wiridz dan do'a, tapi nanti menjelang Isya, sang suami mengajak lagi istrinya untuk shalat sunat mutlak bersama, sebagaimana dilakukan para salafush shalih, agar pernikahan selama ini penuh barakah.

Selesai shalat sunat mutlak ini sang suami membaca do'a :
"Allaahumma ijma' bainana, maa jama'ta bi khaiir, wa farriq bainana idzaa farraqtaa ilaa khaiir".
Alaahumaa Yaa Allah, berkahilah bagiku dalam keluargaku, dan berilah barakah mereka kepadaku. Allaahumma Yaa Allah, kumpulkan antara kami apa yang Engkau kumpulkan dengan kebaikan, dan pisahkan antara kami jika Engkau memisahkan menuju kebaikan. Amiin.

Usai shalat sunat mutlak ini, sang suami mengelus kepala istrinya, dan saat itu sang istri boleh mencium tangan suaminya, yang saya yakin belum pernah ibu lakukan seumur hidup terhadap bapak, terhadap suami ibu, kalah oleh istri tukang ojek, seperti cerita saya dulu. Boleh saling menggumamkan kalimat-kalimat cinta ketika itu.

Setelah itu semua selesai, sang suami shalat Isya di masjid berjamah, setelah selesai shalat Isya berjamaah di masjid dan berdzikir secukupnya, segeralah pulang ke rumah.

Dan ketika itulah, sang istri, sudah berpenampilan untuk membuat seorang suami senang, penuh pesona, dengan parfum yang segar, Ridha suami ibu, adalah surga buat ibu.

Setelah itu semua selesai dipersiapkan, barulah suami istri menyanyikan melodi cinta yang paling indah dalam sejarah percintaan umat manusia, dengan mengharap pahala jihad fii sabilillah, dan mengharap lahirnya generasi pilihan yang selalu ber tasbih dan mengagungkan asma Allah Azza wa Jalla, dimana saja mereka berada.

Dimulai dengan do'a : "Bismillaahi, Allaahumma janibnasy syaithaana, wa janibnisy syaithaana maa razaqtanaa.

Dengan Asma Allah. Allaahumma Yaa Allah, jauhkanlah kami dari syaithaan, dan jauhkanlah syaithaan dari apa yang Engkau berikan kepada kami.

Insyaa Allah, hasilnya seperti yang tertuang dalam surat Ar Rahman, 57, 58, 59, 60.
"Fabiayyi aalaa -i rab bikumaa tukadz dzibaan, Ka annahunnal yaaquutu wal marjaan, Fabiayyi aalaa -i rab bikumaa tukadz dzibaan, hal jazaa -ul ihsaani illal ihsaan".
Maka nikmat Rabb-mu yang manakah yang kamu dustakan
Seakan bidadari itu permata yakut dan marjan
Maka nikmat Rabb-mu yang manakah yang kamu dustakan
Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan pula.

Setelah semua prosesi itu selesai dilaksanakan, jangan lupa mandi janabat, jangan anggap enteng thaharah ini, karena akan menjadi langkah awal untuk melaksanakan ibadah shalat selanjutnya, salah langkah dalam mandi janabat nanti, salah pula seluruh peribadahan shalat yang dilaksanakan selanjutnya.

Hadirin yang berbahagia.
Itu saja yang bisa saya sampaikan, tentu saja saya yakin, masih banyak kekurangannya, itu semua karena kekurangan saya semata-mata, jika pun ada yang benarnya, ketahuilah, bahwa kebenaran hanya milik Allah semata, semoga kekurangan dan kesalahan saya selama tadi, Allah dapat mengampuninya.

Paling akhir, saya ingin menyampaikan do'a untuk ananda berdua calon mempelai.
Allaahumma shalli 'alaa sayyidina Mauhammad wa 'alaa aalli sayydina muhammad.Amiin Yaa Allah Yaa Rabbal 'aalamiin.

Yaa Allah Yaa Rabbana, limpahkanlah anugerah-Mu kepada kami, kelilingilah kami dengan kasih-sayang-Mu, jadikanlah pernikahan anak kami nanti, pernikahan yang penuh barokah dan terpelihara.
Janganlah Engkau jadikan keduanya perpisahan dan pertengkaran.
Cukupilah keduanya dari kebutuhan dunia dan kebutuhan akhiratnya.
Yaa Allah Yaa Rabbana, karuniakanlah kepada mereka keturunan yang shaleh dan shalehah. Lapangkanlah rezeki mereka, dan jadikanlah keduanya sebagai hamba-hamba-Mu yang shaleh.
Yaa Allah Yaa Rabbana, jadikanlah pernikahan mereka nanti seperti pernikahan Nabi Adam dan Siti Hawa, jadikanlah pernikahan mereka nanti seperti pernikahan Jungjunan kami Nabi Muhammad SAW dengan Siti Khadijah Al Qubra, jadikanlah pernikahan mereka nanti seperti pernikahan Shahabat Ali Radiyallahu Anhu dengan Siti Fatimah Az Zahra.
Allaahumma Yaa Allah, Yaa Rabbana, Berkatilah pernikahan anak kami ini nanti dan satukan mereka didalam kebaikan.

Allaahumma bifadl lika 'ummanaa, wa biluth fika huffanaa, waj 'al haadzal 'aqda 'aqdaan mubaarakan ma'shuumaa, wa alif bainahumaa ulfatan, wa qaraaran daa-imaa, walaa taj 'al bainahumaa furqatan, wa firaaran wahusshuumaa, wak fihimaa mu-natad dun-yaa wal aakhirah

Allaahumma innaa nas-aluka an tulqiya bainahumal mahabbata wal widaada, wa an tar zu qahuman naslash shaaliha minal banaati wal aulaad, hattaa turiyahumal asbatha wal ahfaad, wa an tah fadhahumaa mim makaa yidil khalqi ajma'iin, wa an tuwas si'a lahumar rizqa, wa an taj 'alahumaa min 'ibadikash shaalihiin.
Allahumma inna nas -alukal 'aafiyata wa dawaamal 'aafiyah, wasy syukra 'alaal 'aafiyah.
Allaahumma allif bainahumaa kamaa allafta bainaa abiinaa Aadama wa umminaa Hawaa-a, wa allif bainahumma kama allafta bainaa sayyidinaa Muhammad Shalallaahu "alaihi wasallam, wa sayyidatinaa Khadijatal Kubraa, wa allif bainahumma kamaa allafta baina sayyidinaa 'Alii wa sayyidatinaa Fatimataz Zahra-i, wa allif bainahumaa kamaa allafta bainal maa-i wats tsalji.
Barakallaahu laka wa baraka alaika, wa jama'a bainakuma fii khaiir.
Wal hamdulillaahi rabbil 'aalamiin.
Amin Yaa Allah Yaa Rabbal 'Alamiin
Billaahit taufiq wal hidayah wal ibadah wal inayah.
Sub haanaka allaahumma wabihamdika, asyhadu allaa ilaa ha ilaa anta, asytaghfiruka wa aatubu ilaiik.
Wassallam u 'alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh.


----mmd-----

Selasa, 09 Desember 2008

TARTIBNA SHALAT JUM'AT

Bismillaahirahmaannirrahiim.
Assalaamu ‘alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.
Alhamdu lillaahilladzii idzaa araada li’abdihii khairaa, razaqahut tafaqquhu fiddiin, wa ayyadahu bil iimaani wa kamaalil yaqiin. Asyhadu allaa ilaaha illallaahu wahdahu laa syariikalah, syahaadatal awwaliin wal aakhiriin. Wa asyhadu anna muhammadan ‘abduhu warasuuluh, arsalahu ta’aalaa rahmatal lil ‘aalamiin. Wash shalaatu wassalaamu ‘alaa asy rafil ambiyaa-i wal mursaliin, wa ‘alaa aalihii wa ash haa bihii ajma’iin. Amma ba’du. Fayaa ‘ibaadallaah. –uu shiikum wa iyyaaya bitaqwallaah faqad faazal muttaaquun.


Hadirin ikhwatul iman rahimakumullah.

Puji syukur urang sanggakeun ka hadirat Illahi Rabbi Anu Maha Welas tur Maha Asih, anu parantos maparin mangpirang-pirang kani’matan ka urang sadaya, utamina ni’mat iman sareng kasehatan, dugi ka urang sadaya tiasa kempel silaturahmi wangkid ieu ditempat anu dimulyakeun mungguh Allah, dina waktos ibadah Jum’at, dinten ieu. shalawat miwah salam kawilujengan mugia salamina diwuwuhkeun ka jungjunan urang sadaya Nabi Muhammad SAW, ka para shahabatna, para kulawargana sareng ka sadaya umatna anu satia satuhu ka anjeunna tug dugi ka poe kiamah jaga.

Khatib umajak, khusus pikeun diri pribadi heulaanan, atuh umumna pikeun urang sadaya bae, sangkan sami-sami sasarengan ningkatkeun, kaimanan katut kataqwaan urang ka Allah SWT.

Maasyiral muslimin rahimakumullah.

Kantos Rasulullaah SAW, sasauran, dina Hadits Riwayat Abu Dawud, :

“Qaala rasuulullaahu ‘alaihi wasallam, Yah dhurul jum ‘ata stalaasatu nafarin, Fa ra julun hadhara haa, yal ghuu fadzaalika hazh-zhu hu min haa, wa rajulun hadhara haa, bidu ‘aa –in fahaadzaa, rajulun da ‘allaaha, insyaa –a, -a’ thaahu, wa insyaa-a mana ’ahu. Wa rajulun hadhara haa, bi in shaa tin, wasukuutin, wa lam yatakhath tha, raqabata muslimin, wa lam yu- dzi ahadan fahiya kaffaa ratun, ilal jum ‘atil latii taliihaa, wa ziyaa datu, tsalaatsatu ayyaam, wa dzaalika annallaaha yaquulu, man jaa –a bil hasanati falahu ‘asyru amtsaa lihaa”.

Hartosna eta hadits kirang langkung kieu, Saur Rasul :”Aya tilu golongan anu ngalaksanakeun shalat jum’ah, Hiji lalaki ngalaksanakeun shalat Jum’at, bari ngalakukeun pagawean anu teu aya guna, ngan ukur eta-etana hasil tina shalat Jum’at na teh, Jeung hiji lalaki anu ngalaksanakeun shalat Jum’at bari ngadu’a, Saestuna ieu lalaki ngadu’a ka Allah, upama Allah ngabulkeun, mangka Allah bakal ngabulkeun du’ana, tapi upama Allah nolak kana du’ana, pasti Allah moal ngabulkeun kana du’ana, jeung hiji lalaki anu ngahadiran ibadah Jum’at na, bari saregep ngupingkeun khatib khutbah, bari henteu ngalengkahan taktak jamaah sanesna, bari henteu nguciwakeun kaum muslimin sanesna, mangka shalat Jum’ah na, bakal ngalebur dosa-dosana, nepi ka Jum’at anu bakal datang, ditambah ku tilu poe.
sakumaha Firman Allah:

“man jaa –a bil hasanati falahu ‘asyru amtsaa lihaa”.
Sing saha anu datang bari mawa kahadean, pikeun manehna aya balesan sapuluh tikeleun kahadeanana.

Hadirin sadaya, utamina para rumaja rahimakumullah

Dina hadits anu nembe, Rasulullah SAW ngajentrekeun, yen aya tilu golongan, anu ngalaksanakeun shalat Jum’at, sapertos urang ayeuna teh, nu kahji, upama urang shalat Jum’at bari midamel padamelan nu teu aya manfaatna, saur Nabi, ganjaranana ngan saukur padamelan anu teu aya mangfaatna tea.

Upami nengetan kana hadits anu nembe, atuh komo, mun urang shalat Jum’at teh, bari ngobrol, komo bari diselang ku ngadon ngaroko sagala rupi mah, diselang ku bari ngagayem “Koaci” sagala rupa mah, ganjaranana ge, jigana, ngan ukur pangaji sabatang rokoeun, anu keur diududna, atanapi sahargaeun koaci anu keur digayemna.

Lebar, lebar temenan, lengkah urang ti bumi, niat mah rek Shalat Jum’at, berjamaah nanging buktosna, saur Nabi tea, mung ukur kenging ganjaran sabatang rokoeun wungkul, atanapi mung ukur sahargaeun koaci wungkul. sakitu-kituna

Hal ieu didugikeun teh, margi sok aya keneh di urang di dieu, di Masjid Baitul Muttaqin, masih keneh aya nu ngadon Juma’ahan, nalika khatib khutbah teh, bari ngobrol mani meh balap sareng nu khutbah teh, malah masih keneh aya nu diselang bari ngaroko sagala rupa, malah kadangkala bari jongjon ngagayem “Koaci” sagala rupa.

Kumargi kitu, dina kasempetan anu mulya ieu, khatib umajak, utamina ka para rumaja, adi-adi anu masih keneh resep ngaroko bari ngupingkeun khutbah Jum’at teh, yu urang omean ibadah urang teh, sing langkung tarapti kapayun mah, dina ibadah Jum'at mah antawis shalat Jum'at sareng khutbah teh sapaket, lebet kana ibadah duanana ge, ku margi kitu tahan heula satengah jam mah, nafsu hoyong ngaroko, atanapi hoyong ngagayem ‘Koaci” teh, moal, moal paeh langlayeuseun, jigana, ari ngan ukur satengah jam mah liren tina ngaroko teh.

Melang, malah janten kamelang, ti para sepuh jeung kolot-kolot urang keneh, upama teu digeuing teh.

Hadirin ikhwatul iman rahimakumullah,

Anu kadua, saur Nabi, hiji lalaki anu shalat Jum’at na bari ngadu’a ka Allah SWT, nanging saur Rasul sok sanaos aranjeunana shalat Jum’at na bari ngadu’a ka Allah SWT, nu bakal ngabul keun, sareng nu bakal nolak kana eta du’a, teu aya deui anging Allah SWT, upama du’a na dikabul, anging Allah nu ngabulkeun eta du’a, upama du’ana ditolak, anging Allah nu nolak eta du’a.

Anu katilu saur Nabi, hiji lalaki anu ngahadiran shalat Jum’at, bari saregep ngupingkeun khutbah khatib, henteu seseleket nepi ka ngalengkahan taktak batur, bari henteu ngajaheutkeun manah muslim anu lian, saur Rasul ibadah Jum’atna, bakal ngalebur dosa dugi ka dinten Jum’at nu bakal dongkap, ditambih ku tilu dinten deui, sakumaha Firman Allah :

” man jaa –a bil hasanati falahu ‘asyru amtsaa lihaa”.
Sing saha anu datang bari mawa kahadean, pikeun manehna, aya balesan sapuluh tikeleun kahadeanana..

Ma-asyiral Muslimin rahimakumullah.

Saterasna dina Hadits Riwayat Bukhari sareng Muslim

‘an abii hurairata radhiyallaahu ‘anhu, annan nabiyya, shallallaahu ‘alahi wasallam qaala :” Idzaa qultu lishaa hibika yaumal jum ‘ati, wal imaamu yakh thubu, faqad laghaut”.

Ti Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, Saur Nabi :” Saupama dina poean Jumaah, diantara aranjeun, aya nu nyarita ka gigireunana, ku ucapan “ Cicing anjeun” padahal harita Imam keur khutbah, mangka Jum’atna mubadzir”.

Ma-asyiral muslimin rahimakumullah.

Saur Nabi dina hadits anu nembe, saupama urang nuju Jumaahan model kieu, ngupingkeun khutbah sapertos ayeuna, mun tea mah kaleresan, aya murangkalih gigireun urang, ngobrol bae, atanapi ngan ukur heureuy bae, ana heg teh, digeunggeureuhkeun ku urang, sok sanaos ngan ukur ku ucapan “Jarempe maraneh”. Saur Rasul, Jum’ahananna mubadzir, sia-sia.

Malah kadangkala mun urang ngageunggeureuhkeun murangkalih, budak na mah teu naon-naon, tapi kolot-kolot na, ramana atanapi eyangna, anu henteu tarima, putu kakasihna, atanapi putra nu “semata wayang” na aya nu ngageunggeureuhkeun teh.

Margi anu wajib ngageunggeureuhkeun murangkalih atanapi saha bae anu ngobrol nalika khatib nuju khutbah, anging khatibna ku anjeun, mung ukur khatibna ku anjeun anu tiasa ngageunggeureuhkeun teh, jamaah nu sanes mah, upami ngiring ngageunggeureuhkeun teh, keuna kana “faqad laghaut” ibadah anu sia-sia, padamelan anu mubadzir.

Kumargi kitu, ngajagi ibadah Jum’at urang bilih mubadzir, shalat Jum’at urang bilih sia-sia, khatib umajak, khusus pikeun diri pribadi heulaanan, pikeun sadaya para jamaah umumna, urang aping deui, putra-putu urang dina ngajalankeun ibadah Jum’at na, bilih putra-putu urang, ngajantenkeun mubadzir ka jamaah anu sanes, urang aping deui sangkan putra-putu urang henteu matak janten sia-sia kanu sanes.

Rupina bakal langkung pantes tur merenah, mun putra-putu urang nalika Jumaahan teh, ngarendeng sareng sepuhna, sok lingsem geuning ari ku sepuhna mah murangkalih teh, utamina pikeun ngabiasakeun para murangkalih, tartib di masjid, pibekeleun maranehanana, dina ngojayayan kahirupan, putra-putu urang keneh, jaga.

Bangor jeung nalaktakna mah, ngaranna ge budak, kadangkala urang baheula, nalika sapantaran maranehanana ayeuna, langkung ti kitu boa, urang mah, bangorna teh.

Nanging upami diaping digendeng ku sepuh mah, moal kajongjonan teuing rupina, dan puguh aya elesna, puguh aya nu nalingakeunanana.

Barakallaahu lii walakum fil qur aanil 'adhiim, wa nafa 'anii wa iyyaa kum bimaa fiihi minal aayaati wadz dzikril hakiim, wa taqabbala minnii wa mingkum tilaa watahuu innahuu huwas samii 'ul 'aliim. Aquulu qaulii haadzaa, was tagh firullaahal 'adhimaa lii walakum, wa lisaa iril muslimiina wal muslimaat, wal mu' miniina wal mu'minaat, fastagh firuuhuu, innahuu huwal ghafuurur rahiim.

KHUTBAH KADUA

Alhamdulillaahil ladzii waf faqanaa li adaa il jumu'i wal jamaa'aah, wahadaanaa ilaa sabiilik tisaabi akmalis sa'aa daah. Asyhadu allaa ilaaha ilaallaahu wahdahu laa syariikalah, rabbul 'araadhiina wa samaawaat, wa asyhadu anna muhammadan 'abduhu warasuluhul mu ayyadu bi af dhalil aayaati wal mu'jizaat. Allaahumma shalli wasallim 'alaa muhammadin, wa 'alaa aalihi mashah bihii maa ta 'aa qabatil auqaatu was saa 'aah. Amma ba'du. Fayaa ayyuhannaas, ittaqullaaha wahaa fidhuu 'alaat thaa 'aati wa hudhuuril jumu 'i wal jamaa 'aah. Qalallaahu ta 'aalaa, yaa ayyuhal ladziina aamanuu idzaa nuu diya lish shalaati miy yaumil jumu 'ati fas 'au ilaa dzikrillah, wa dzarul bai 'a dzaalikum khairul lakum ing kuntum ta' lamuun, fa idzaa qudhiyatish shalaatu faan tasyiruu fil ardhi, wab taghii mim fadh lillaahi wadz kurullaaha katsiiraa, la 'allakum tuf lihuun.

Hadirin ikhwatul iman sidang Jum'at rahimakumullah.

Kanggo mungkas khutbah kadua ieu, urang sami-sami bae ngadu’a, mugia du’a urang sadaya ieu diijabah ku ka Allah SWT,

Yaa Allah Yaa Rabbanaa, mugi Gusti ngahapunten kalepatan abdi sadaya, kalepatan saminggu kapengker sareng kalepatan saminggu nu bade dongkap, sareng mugi Gusti ngajantenleun abdi sadaya, janten jamaah anu pageuh sabilulungan, anu sabobot sapihanean, sapertos geugeut pageuhna, silaturahmi antawis kaum Anshar sareng kaum Muhaajirin.

Allaahumma Yaa Allaah, sembaheun abdi sadaya, teu aya deui Rabb nu wajib di sembah ku abdi sadaya, anging anjeun Yaa Rabbanaa, anu tunggal sahiji, Anjeun Nu Maha Gagah Tur Kawasa, sedengkeun abdi sadaya, makhluq Gusti anu kalintang dha’ifna.

Yaa Rabbanaa, mugi Gusti masihan taufiq sareng hidayah ka abdi sadaya, sangkan iman abdi sadaya tetep kiat. Sareng mugi Gusti, ngajantenkeun abdi sadaya muslimin-muslimat, anu daek silih pikacinta kalayan didadasaran ku Lillaahi Ta ‘aalaa.

Allaahumma Yaa Allah, pasihan widi abdi sadaya, iraha wae sareng dimana wae, maot aya dina kaislaman, maot aya dina husnul khatimah, sareng mugi Gusti nebihkeun ka abdi sadaya, tina sagala godaan sareng cobaan, anu baris nyababkeun lemahna iman ka Gusti.

Allahumma shalli wasallim 'alaa sayyidinaa muhammadin, shalaatan tun jinaa bihaa min jamii 'il ahwaali wal afaati wa taqdhii lanaa bihaa min jamii 'al haajaati wa tuthah hirunaa bihaa min jamii 'is sayyi-aati wa tar fa'unaa bihaa 'indaka a'lad darajaat, watuballighunaa bihaa aqshal ghaayaati min jamii 'il khairaati fil hayaati wa ba'dal mamaat. Innaka 'alaa kulli syai-ing qadiir.
Allahumma arinal haqqa haqqa, war zuqnat tibaa 'ahu, wa arinal baathila baathila, war zuqnaj tinaabah.
Allaahumma innaa nas-aluka 'ilmaan naa fii 'aan, wa 'amalan mutaqabbalaa, wa rizqaan halaalaan thayyibaa.
Allaahumma innaa na 'uu dzubika min 'ilmin laa yan fa'u, wa qalbin laa yakh sya'u, wa du 'aa in laa yus ma 'uu, wa 'amalin laa yur fa 'u.
Allaahummaj 'alnaa wa aulaa danaa, wa dzurriy yaa tinaa min ahlil 'ilmi wa ahlil khaiir, walaa taj 'alnaa wa iyyaahum min ahlisy syarri wadh dhaiir.
Allaahummar zuqnaa mutaa ba 'atan nabiyyi shalallaahu 'alaihi wasallam, awwalan wa aakhirran, wa dhaa hiraan, wabaa thinan, wa qaulan, wa fi' laan, wa thaa 'atan, wa 'ibaa datan, wa 'amalaan shaalihan wa 'adah.
Allaahumma ahyinaa bihayaatil 'ulamaa-i, wa amitnaa bimautisy syuhadaa-i, wah syurnaa yaumal qiyaamati fii zumratil auliyaa-i. Wa ad khilanal jannata ma 'al ambiyaa-i 'alaihimu salaam.
Rabbanaa laa tuzigh quluu banaa ba'da idz hadaitanaa, wa hablanaa mil ladungka rahmah, innaka antal wahhaab. Rabbanaa aatinaa fid dun-yaa hasanah, wa fil aakhirati hasanah, wa qinaa 'adzaa ban naar.
Subhaana rabbika rabbil 'izzati 'ammaa yashifuun wasalaamun 'alal mursaliin.

Walhamdulillaahi rabbil 'aalamiin.

'ibaadallah, innallaaha ya'muru bil 'adli wal ihsaan, wa itaa idzil qurbaa wayanhaa 'anil fahsyaa-i wa mungkaari wal bagh, ya 'idhukum la 'allakum tadzak karuun, fadz kurullaahal adhiimal jaliila yadz kurkum, wasy kuruuhu 'alaa ni'amihi yazidkum, walaa dzikrullaahi akbar.
Astaghfirullaahal 'adhim, lii walakum.
Wasalam mu 'alaikum warahmatullahi wabarakaatuh.

Senin, 08 Desember 2008

SHALAT BERJAMAAH

A 'uudzu billaahi minasy syaithaanir rajiim.
Innamaa ya' muru masaa jidallaahi man aamana billaahi wal yaumil aakhiri, wa aqaamash shalaata, wa aatazzakaata walam yakh syaa illallaaha fa 'asaa, ulaa -ika ay yakuunuu minal muhtadiin.

Ayat-ayat nu kaunggel diluhur, nyaeta surat At Taubah ayat anu ka 18, anu hartosna kirang langkung : “Ngan wungkul anu ngamakmurkeun masjid-masjid Allah, nyaeta jalma-jalma anu ariman ka Allah jeung poe akhir, serta tetep ngadegkeun shalat, ngaluarkeun zakat jeung anu teu sieun ku sing saha bae salian ti Allah, maranehanana jalma-jalma anu diancokeun kana golongan jalma-jalma anu meunang pituduh”.

Nabi Muhammad SAW kantos sasauran dina hadits anu diriwayatkeun ku Syaikhan, anu unggelna sapertos kieu :
“Shalatul jamaa ‘ati taf dhulu ‘alaa shalaatil fadz dzi bi sab ‘in wa ‘isy riina darajah” Anu hartosna : Shalat berjamaah teh ngungkulan kana solat nyorangan atawa munfarid ku dua puluh tujuh darajat.

Kanggo ngumplitan eta hadits, aya deui hadits anu diriwayatkeun ku Thabrani anu kieu unggelna : “Wafadhulatish shalaatu fil masjidil jaami ‘i ‘alaa maa siwaahu minal masaa jidi bi kham simii -ati shalaat”. Anu hartosna, kaunggulan ganjaran shalat di masjid jami ngungkulan ka anu lianna sapertos shalat di imah, lima ratus kali shalateun”.

Hadits anu katilu, anu diriwayakeun ku Abu Daud.
Man sami ‘an nidaa -a falam ya- tihii falaa shalaata lahuu illaa min ‘udz rin” Sing saha anu nguping sora adzan, tapi teu datang, shalatna moal ditarima kajaba kanu aya halangan.

Atuh pangbibita, sangkan urang sering shalat berjamaah di masjid teu kirang-kirang, geura cobi ieu,
“Man shallal ‘isyaa -a fii jamaa ‘atin faka -annamaa qaama nish fal laili waman shallash shub ha fii jamaa ‘atin faka -annamaa shallal laili kullahu”. Sing saha anu ngalaksanakeun shalat Isya berjamaah, sarua jeung ngalaksanakeun shalat sunnat satengah peuting, jeung sing saha anu ngalaksanakeun shalat shubuh berjmaah, sarua jeung ngalaksanakeun shalat sunnah sapeuting campleng.

Man shallal maghriba wal ‘isyaa -a, al aakhirata wa shalaatal ghadaati fil masjidi fii jamaa ‘atin fa ka annamaa ahyal laila kullahu”.
Sing saha anu shalat Maghrib, Isya nu akhir, jeung shalat Shubuh di masjid berjamaah, sarua jeung ngamakmurkeun peuting eta, sapeuting campleng.

Hadits-hadits anu nembe ngahaja didugikeun deui teh, margi urang mah umumna, asa parantos rengse, atanapi asa parantos gugur tugas, mun tos rengse ngalaksanakeun shalat, sanajan ngan ukur nyorangan di bumi ku anjeun.

Urang mah teu acan kabita keneh bae, mun shalat bari berjamaah di masjid teh, teu janten pamecut hadits-hadits anu didugikeun nembe teh, bari padahal teu mustahil urang ge tos apal cangkem deui kana hadits-hadits anu nembe teh, teu acan katoel bae hate teh, sok sanaos pangbibita mah, malah teu kirang-kirang ancaman, pikeun jalma-jalma anu ngantunkeun shalat berjamaah.

Kaunggel dina hadits anu diriwayatkeun ku Bukhari sareng Muslim : “Walladzii nafsii biyadihi laqad hamamtu -an aamura bihathabim fayuh tathabu, tsumma aamuru rajulam faya -ummun naasa, tsumma -ukhaa lifuhu, ilaa rijaalim fa -uhar riqu ‘alaihim buyuutahum.
Demi Allah anu mibanda jiwa raga ieu, mun kongang mah saur Nabi, kami marentahkeun jalma-jalma pikeun ngumpulkeun suluh, terus kami marentahkeun nu sejen pikeun adzan ngajak shalat, geus kitu kami marentahkeun salah saurang diantarana pikeun ngimaman shalat berjamaah, saterusna kami bakal ngadatangan jalma-jalama anu teu milu shalat berjamaah, terus ku kami duruk imah jalma-jalma nu teu milu shalat berjamaah.

Nabi bae, kahoyongna mah pikeun jalma-jalma nu teu ngiring shalat berjamaah teh, diduruk tah bumi-bumina teh.

Kumargi kasauran Nabi nembe jiga kitu, aya hadits anu diriwayatkeun ku Muslim, saur Abu Hurairah, sapertos kieu :
“Aya salah saurang shahabat anu teu ningali, anu lolong sumping ka payuneun Rasulullah SAW, bari nyarios : Yaa Rasulullah, kumargi sim kuring teh teu gaduh nu nungtun pikeun nuyun ka masjid, kumaha mun shalat sim kuring mah di rorompok bae ?” Ku Rasul harita mah diidzinan, nanging nembe oge ngaleos sababaraha lengkah, ku Nabi digentraan deui bari tumaros : “Ari anjeun masih keneh bisa ngupingkeun sora adzan ?”
“Atuh kantenan we, yaa Rasulullah”.
“Upama kitu, leuwih hade anjeun datang pikeun shalat berjamaah”.
Ku Nabi mah, anu teu ningali bae, anu lolong, masih keneh dipiwarang shalat berjamaah di masjid, teu aya “rukhshah”, teu aya halangan pedah lolong.

Ari urang ? geura tengetan we ku anjeun ulah ku batur, salira masih keneh sehat, malah kalebet jagjag belejag, da keukeuh we teu acan kabita wae shalat berjamaah di masjid teh, margi angger we shalat fardu teh di bumi keneh bae, malah sok bari jeung rada GR kapan sakapaeung mah urang teh, sok bari rada gede rasa tea, pajar teh shalat di bumi mah asa langkung deuheus ka Pangeran teh, padahal tos puguh nembe, shalat fardhu di masjid bageanana, kajabi shalat sunat anu di bumi mah.

Padahal shalat di masjid anu bari berjamaah mah, sakalieun we urang teh shalat bari rada malaweung, aya jaminan kapan, mun aya we di antara jamaah nu lian, kalayan shalatna bari khusyu, atawa imamna anu khusyu, kapan kacandak kanu khusyu urang teh, bari darajatna langkung ageung dua puluh darajat.

Sabalikna mun sakalieun shalat di bumi wungkul mah, keur mah ganjaranana teu acan karuhan, katambah-tambah mun shalatna bari cus-cos kamana-mendi, atuh lapur jigana, teu hiji-hiji acan darajatna.

Lamun teu kitu, sok aya kaisin, aya kaera, urang mah mun pada nyebat jalma shaleh teh, pedah eta di jalan, pedah urang keur ngingkig ka masjidkeun aya nu ngageuhgeuhyekeun : “ “Leuh kawas jalma shaleh bae make jeung ka masjid” Da enjingna teh, ngaringkeb, teu ka masjid deui, era cenah, disebut jalma shaleh, batur mah hoyong.

Akibatna, angger we masjid mah kosong, meh umum di unggal masjid kitu, nalika waktu shalat fardhu mah kosong bae, sanaos ari fisik masjidna mah tohaga, malah teu saeutik nu kalebet megah, tapi pangeusina, maksimal tilu jajar, kitu ge aki-aki wungkul.

Jigana, jigana pedah Allah mah tara nampiling.

Digeuing ku khatib teu kurang-kurang, di elingan ku para mubaligh meh unggal waktos, malah meh unggal Jum’at ku Khatib mah diingetanana oge, sangkan shalat berjamaah teh,

Tapi kumaha basana, kapan cenah ge : “Akh siah, khatibna oge can puguh asup ka sorga” nepi ka kitu tah.

Melang teh bisi tibalik, kapan teu saeutik di lembur urang, nalika pupus mah, atawa mun pareng geus jadi layon mah, dishalatkeunana ge kapan mani keukeuh tah kulawargana teh, hoyong di masjid cenah, malah diumumkeunana hoyong langkung ngoncrang dina “speaker” teh, sangkan katengetan ku bala rea, padahal kadongdora geu jadi mayit mah, sanajan disholatkeunana di masjid, ari keur jumenengna keneh, boro-boro shalat bari ngama’mum, teu apal-apal acan juru masjid jiga kumaha.